Malam tadi ku temui Tuhan,
ku pertanyakan semua kekuranganku.
Kataku, “ Tuhan, aku tidak cantik, tidak pintar,tidak kaya,
tidak terlalu baik, dan tidak-tidak lainnya yang menganak sungai,
sampai-sampai aku lelah untuk menyebutkannya.”
Tuhan tidak menjawab.
Lanjutku, “ Intinya, dalam hidupku semua serba biasa,
tak ada yang istimewa, standar.”
Tuhan tetap tidak menjawab.
Aku tambah bernafsu, “Mengapa orang lain bisa kaya sekaligus
pintar?!
Mendapat kutukan menjadi perempuan cantik
pula.”
“Mereka tak kenal rasa khawatir,
khawatir tak kan masuk surga pun tidak,
karena mereka sudah merasakan sampelnya.”
Aku semakin menjadi.
Ku tengadahkan wajah untuk melihat reaksi-Nya,
Dia hanya tersenyum,
ya betul kawan,
cuma tersenyum.
Kemudian Dia berbisik pada Angin,
Angin takzim mendengarkan.
Sesekali dia mengangguk,
itu perkiraanku saja, kawan.
Karena aku mendengar gemuruh lembut saat itu.
Tak berapa lama Angin bertiup ke arahku,
dia mencoba menanyakan sesuatu.
“Manusia, apa maumu?”
“Ingin cantik, ingin kaya, ingin
pintar, dan ingin yang lain-lain,
Tuhan juga sudah tahu, mengapa kau tanya-tanya
lagi?”
“Aku cuma memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Apa keluhanmu?”
“Sudah ku bilang, aku ini biasa,
sungguh membosankan.”
“Apa itu menimbulkan kesulitan
bagimu?”
“Emhh….”
“Kau menderita karena
cobaan-Nya?”
“Emhh….”
“Membuatmu sedih?”
Aku terdiam
“Membuatmu terpuruk?”
Aku masih terdiam
“Melemparkanmu ke jurang
ketidakberdayaan?”
Aku tetap terdiam
“Melemparkanmu ke padang keputusasaan?”
Diam seribu bahasa
Pertanyaan Angin berputar di kepalaku,
setiap katanya menyengat tubuhku,
setiap kalimatnya tak ada yang tak menampar kesadaranku.
Aku menangis dalam sujudku,
aku berbahagia menemukan arti diriku,
aku adalah perempuan biasa,
ya kawan,
seorang perempuan biasa.
Aku adalah perempuan BIASA yang terbiasa BISA.
Pataruman, 25
April 2010 03:48


0 comments:
Post a Comment