Akhirnya, dengan mengorbankan jatah
sandal lebaran, saya bisa mendapatkan buku Kisah Lainnya Catatan 2010-2012
Ariel Uki Lukman Reza David. Saya sempat ketar-ketir dengan ketiadaannya
Gramedia di kota Garut, karena hal itu memaksa saya untuk menyambangi kota
Bandung jika masih menginginkan buku tersebut. Dalam keadaan shaum bulan
Ramadhan dan keuangan yang jauh dari pas-pas an, Bandung seakan kota di bagian
dunia lain yang sulit dijangkau. Tapi mungkin karena sudah jodohnya, kebetulan
adik saya ada perlu ke Bandung untuk urusan kampus, jadilah saya nitip
dibelikan buku bersampul merah itu.
Saya tidak berekspektasi lebih terhadap
kualitas kesusastraan buku itu, sebagai pengagum karya-karya Ariel, saya hanya
ingin tahu kegiatan dia selama dua tahun belakangan ini. Tapi ternyata buku itu
jauh melebihi apa yang saya harapkan. Ariel yang memang piawai menulis lirik
tidak main-main dalam penulisan buku itu, tiap kalimat mengalir tidak
berlebihan dan jauh dari kesan pembelaan diri. Puisi-puisinya indah dengan
pilihan kata yang apik, serta ilustrasinya natural.
Puisi yang paling saya
suka adalah puisi yang di tulis pada masa awal-awal Ariel masuk rutan. Maknanya
sangat dalam, ada perasaan dan pemikiran yang ingin dibagi tapi dibalut dengan
kemisteriusan yang indah. Berikut puisi tersebut:
Jika saya
bercerita sekarang,Maka itu hanya akan membuat sebagian orang memaklumi saya,
Dan sebagian lagi akan tetap menyalahkan saya,
Tetapi itu juga akan membuat mereka memaklumi dunia yang seharusnya tidak dimaklumi,
Dan tidak ada yang dapat menjamin apakah semua dapat memetik hal yang baik dari
kemakluman itu,
Atau hanya akan mengikuti keburukannya
Maka lebih baik saya diam.
Jika saya bersuara sekarang,
Maka itu akan membuat,
Saya terlihat sedikit lebih baik,
Dan beberapa lainnya terlihat lebih buruk sebenarnya,
Maka saya lebih baik diam.
Jika saya berkata sekarang,
Maka akan hanya ada caci maki,
Dari lidah ini,
Dan teriakan kasar tentang kemuakan,
Serta cemoohan hina pada keadilan,
Maka saya lebih baik diam.
Saya hanya akan berkata pada Tuhan, bersuara pada yang berhak,
Berkata pada diri sendiri,
Lalu diam kepada yang lainnya,
Lalu biarkan seleksi Tuhan,
Bekerja pada hati setiap orang.
Uki, Lukman, Reza, dan David
dengan cara masing-masing menggenapkan kesempurnaan buku itu. Di dalamnya, saya
menemukan betapa sulit untuk mengubah kesalahan menjadi kebaikan, walaupun kita
telah menyadari dan menyesalinya, orang lain tak kan pernah melupakan. Akan
tetapi menyangkal kesalahan pun, bukan pilihan yang tepat, karena lewat
kesalahan kita bisa lebih matang dalam memandang hidup. Good job guys, I do
love it.
Excelo.
August, 18th 2012 11.41AM

