Benar.
Aku bukan siapa-siapa.
Memang.
Aku tak punya apa-apa.
Tak
kan ku pungkiri,
Makanan
sehari-hariku adalah kegagalan.
Dan
tak kan pula ku tutupi,
Adakalanya
aku berubah menjadi iblis.
Dan
untuk saat ini,
Iblis
itu semakin menguasaiku.
Merayuku
untuk melangkah di jalannya.
Kemudian
mendesakku untuk berlari menuju tepi jurang.
Di
sudut yang gelap aku melihat malaikat,
Makhluk
putih bersayap itu begitu tak berdaya,
Aku
muak melihatnya seperti itu,
Dia
hanya mampu terkulai lemah di tanah,
Bukankah
dia seharusnya membantuku untuk menjauh dari sang iblis,
Iblis
yang sudah jompo itu.
Hanya
kobaran api yang terpancar di kedua bola mata itu,
Tangannya
memegang erat sebilah belati beracun,
Dengan
langkah penuh kemarahan dia mendekati malaikat.
Dia
tancapkan belati itu tepat di jantung makhluk suci itu,
Mata
mereka berdua bertemu,
Untuk
sesaat mereka saling menyanyikan lagu sendu.
Hanya
sesaat.
Mata
itu kembali berapi begitu menatap makhluk yang dihujamnya kesakitan.
Mengerang,
menerawang, kemudian menghilang.
Aku
mengira-ngira benda apakah yang tengah aku pegang.
Aku
tersentak.
Aku
seperti tak menginjak tanah,
Saat
mengetahui belati beracun itu ada di tanganku.
Bagaimana
bisa? TUHAN, apa yang sebenarnya terjadi?
Aku
menangis, meraung, menjerit, merintih,
Lalu
tiba-tiba tertawa dalam pedih.
Sambil
terisak aku lemparkan belati terkutuk itu,
Tapi
itu tak mengubah apapun,
Kenyataan
tetap mengisahkan
Bahwa
akulah yang telah membunuh malaikat itu.
Aku
yang telah berubah menjadi iblis.
Aku
terpuruk.
Iblis
jompo bersorak.
Excelo.
26 Mei 2012 03.04PM


0 comments:
Post a Comment