Iblis Jompo

Wednesday, June 06, 2012

Benar. Aku bukan siapa-siapa.
Memang. Aku tak punya apa-apa.
Tak kan ku pungkiri,
Makanan sehari-hariku adalah kegagalan.
Dan tak kan pula ku tutupi,
Adakalanya aku berubah menjadi iblis.

Dan untuk saat ini,
Iblis itu semakin menguasaiku.
Merayuku untuk melangkah di jalannya.
Kemudian mendesakku untuk berlari menuju tepi jurang.

Di sudut yang gelap aku melihat malaikat,
Makhluk putih bersayap itu begitu tak berdaya,
Aku muak melihatnya seperti itu,
Dia hanya mampu terkulai lemah di tanah,
Bukankah dia seharusnya membantuku untuk menjauh dari sang iblis,
Iblis yang sudah jompo itu.

Hanya kobaran api yang terpancar di kedua bola mata itu,
Tangannya memegang erat sebilah belati beracun,
Dengan langkah penuh kemarahan dia mendekati malaikat.
Dia tancapkan belati itu tepat di jantung makhluk suci itu,
Mata mereka berdua bertemu,
Untuk sesaat mereka saling menyanyikan lagu sendu.
Hanya sesaat.
Mata itu kembali berapi begitu menatap makhluk yang dihujamnya kesakitan.
Mengerang, menerawang, kemudian menghilang.

Aku mengira-ngira benda apakah yang tengah aku pegang.
Aku tersentak.
Aku seperti tak menginjak tanah,
Saat mengetahui belati beracun itu ada di tanganku.
Bagaimana bisa? TUHAN, apa yang sebenarnya terjadi?

Aku menangis, meraung, menjerit, merintih,
Lalu tiba-tiba tertawa dalam pedih.
Sambil terisak aku lemparkan belati terkutuk itu,
Tapi itu tak mengubah apapun,
Kenyataan tetap mengisahkan
Bahwa akulah yang telah membunuh malaikat itu.
Aku yang telah berubah menjadi iblis.

Aku terpuruk.
Iblis jompo bersorak.

Excelo. 26 Mei 2012 03.04PM

0 comments:

Post a Comment