Kok bisa ya itu bibir
lemes sekeluarga, kompak abis. Mereka bisa ngomong apa pun tentang orang lain
dengan bebas nya. Tanpa beban. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan lawan bicara
mereka, tersinggung apa tidak, enak didengar apa tidak. Persetan. Yang penting
mereka happy, bisa mengkritik, bisa mencela, dan tentu saja bisa menertawakan.
Sial. Haruskah aku memberi mereka cermin segede pintu.
Aku, sebagai orang yang
tercipta tanpa kemampuan untuk memaki-maki, atau sekedar membela diri dari
pandangan merendahkan orang lain, hanya mampu mengelus dada dan mendoakan
mereka celaka. Eitsss? Intermezzo. Apa sih yang mereka punya? Sampe-sampe
dengan leluasa menghina orang lain gitu.
Aku tahu, aku berasal
dari keluarga pas-pasan. Rumah hampir roboh, kendaraan gak punya, makan
seadanya. Tapi ada satu kebanggaan yang akan aku bawa sampai mati, yaitu
keluarga kami berjuang mati-matian agar bisa sekolah setinggi mungkin, walaupun
itu harus dibayar dengan harga yang mahal. Kami tidak bisa hidup enak seperti
mereka. Semoga perasaan terhina ini, akan menjadi penghapus dosa-dosaku.


0 comments:
Post a Comment