Minggu ini benar-benar
penuh kejutan. Gak pernah terbayangkan sebelumnya, dalam minggu yang sama aku
harus menerima dua kali tembakan dari orang-orang yang tak terduga. Yang
pertama si Suja, aku gak pernah menutup mata, dari tahun yang lalu juga aku
tahu dia menyukaiku. Tapi aku gak pernah menanggapi dengan serius, aku pikir
dia cuma mengagumiku. Umur kami begitu berjarak, sehingga aku gak berani
menebak-nebak apa yang sebenarnya dia rasakan padaku.
Aku kaget sih, anak
seusia dia berani menanyakan kejelasan hubungan kami. Dia protes, kalo emang
aku cuma nganggap dia adik, harusnya aku menyuruhnya berhenti menyukaiku dari
dulu, katanya. Aku masih ingat dia pernah sms kalo dia tuh menyukaiku,
jawabanku waktu itu adalah yah gapapa atuh ari suka mah. Dan petaka pun dimulai
dari sana. Dia pikir aku ngasih dia harapan, sebaliknya aku pikir aku gak
memberikan harapan apapun, aku cuma gak mau menggugat perasaan orang lain,
bukankah setiap orang berhak untuk menyukai siapa pun yang dia mau. Setelah aku
pikir-pikir, salah juga sih, kalimat aku ambigu.
Aku baru mengenalnya
setaun belakangan, selama ini aku gak pernah memusingkan rasa suka dia, aku hanya
sedikit menikmatinya, Pastilah ada rasa seneng saat disukai dan diperhatikan,
apalagi ni anak SMA, sensasinya berbeda. Kecuekanku terhadap rasa sukanya
bertambah saat tau dia menjalin hubungan spesial dengan orang lain, trus
status-status di facebooknya juga menunjukan dia jatuh cinta, cemburu, dan
kesel-keselan ma pacarnya. Intinya, aku gak menganggap serius perasaan dia, toh
dia menjalani kehidupan asmara sewajarnya abg yang lain. Karena itu lah, aku
kaget banget waktu dia bilang rasa suka dia ke aku tuh, rasa suka yang
sebenarnya. Pendeknya, C.I.N.T.A. Entah perasaan siapa yang benar, yang pasti
aku lah yang salah bersikap, aku berlebihan sehingga menimbulkan spekulasi yang
gak pernah ku bayangkan.
Orang kedua yang nembak
aku minggu ini tu si mantan. Aku sebut dia si mimpi, karena dia bilang kalo dia
tuh gak enak ngapa-ngapain karena mimpiin aku tiga malam berturut-turut. Bukan
sekedar nembak, dia mu ngelamar aku hari itu juga, kalo seandainya aku tidak
sedang menjalani hubungan spesial dengan seseorang. Kaget tingkat tinggi lah, tiba-tiba
dia bilang seperti itu. Karena kami dah lost contact cukup lama dan terakhir
komunikasian dia bilang aku membuat dia kecewa dan ilfeel.
Minggu yang
mengaduk-aduk perasaan, aku merasa tlah menjalani hidup dengan sebaik dan
sehati-hati mungkin, tapi kenyataannya tidak sedikit orang yang kecewa pada
sikapku. Dan aku gak menyadarinya.


0 comments:
Post a Comment