Febri harus pulang. Ya
ampun, sayang banget dia gak masuk big four. Gak akan ada lagi suara khas sarat
falsetto di sisa kompetisi Indonesian Idol Season 7. Dari awal aku dah merasa
gak enak. Walaupun penampilan dia
malam ini bagus banget, tapi susah untuk
berada di posisi aman, persaingannya sangat ketat. Aku punya feeling dia yang
bakal keluar. Pada saat Daniel akan mengumumkan siapa yang bakal pulang , aku
hanya berharap feelingku salah. Dan, aku benci ternyata aku benar.
Aku suka banget penampilan
Febri malam ini. Setiap kontestan menyanyikan dua lagu, Febri membawakan lagu
Peterpan yang Di Balik Awan dan With or Without You nya U2. Tak perlu diragukan
lagi, aku adalah Sahabat Peterpan sejati, tapi diantara dua penampilan Febri
itu, aku dibuat terpukau oleh penampilan dia yang kedua. Dia menyanyikan lagu
itu dengan caranya sendiri, ditambah stage act dengan gaya slow motion gitu. Unforgettable
dan kena di hati. Aku agak merasa bersalah ma dia, pas lagi melongo liat dia
nyanyi With or Without You, aku ngagerentes dina hate pengen liat lagi
penampilan dia yang itu. Yah, pada kenyataannya, aku memang melihat dia
nyanyiin lagi lagu itu di akhir acara.
Bicara soal Febri pasti
bicara juga tentang someone who I know, hhe. Dari pertama liat juga, aku langsung
nyadar, Febri tuh mirip si Suja. Kali. Sedikit cerita tentang si Suja, kemarin-kemarin
aku merasa berat nerima sikap dia. Kayaknya dia berniat menghilang. Hatiku tak
mengizinkan. Aneh. Padahal sebelumnya aku yang ingin menjauhi dia. Gara-garanya,
aku kesal banget ma dia. Kami janjian, dia memintaku menunggu, tapi tak pernah
datang. Dan yang parahnya, dia gak minta maaf dan bersikap kayak gak terjadi
apa-apa. Untuk lima bulan selanjutnya, kami menjalani semacam Cold War, walau
pada kenyataannya dia masih suka menyapa di dunia maya, tapi aku menanggapinya
dengan dingin.
Kami pernah perang
komen di facebook, seperti biasa dia menyapa dengan sikap tanpa dosanya, dan
aku pun seperti biasa menangapinya dengan dingin. Sepertinya dia mulai merasa
sikapku berubah. Terlambat memang, orang itu dah lima bulan yang lalu. Dia
bertanya kenapa, lalu aku jawab kesal di buat menunggu. dia malah menuduh aku
pundungan dan menyuruh aku untuk bersikap dewasa. Sesuatu banget ya, disuruh
dewasa ma anak SMA. Dia kecewa karena aku gak mau maafin, padahal sungguh, dia
gak pernah minta maaf sebelumnya.
Sebenarnya kalo dia
langsung minta maaf dan menunjukan penyesalannya, aku juga gak akan bersikap
keras, masalahnya gak kan berlarut-larut kayak gini. Tapi aku ada salutnya juga
sih, dia berniat menyelesaikan masalah ini. Dia menelpon aku. Tapi pembicaraan
di telepon itu malah menambah persoalan baru. Masalah kekesalan aku dianggap
dah clear tapi ujung-ujungnya dia malah mengungkapkan perasaannya padaku, gak
nyangka aku. Ternyata selama ini dia merasa dikasih harapan kosong, sementara
aku tidak berpikir sejauh itu. Aku pikir kedekatan kami, ya tidak memerlukan
sebuah status, karena memang rumit juga untuk dideskripsikan.
Dia kecewa. Aku
bingung. Setelah itu sikapnya agak beda, mungkin dia sedang mencari-cari alasan
untuk tidak berbicara denganku lagi. Ada perasaan tak rela, seperti yang sudah
ku katakanan, sebelumnya aku lah yang tidak ingin berbicara dengan dia.
Kembali lagi ke Febri. Febri
yang sudah pulang. Febri yang mirip si Suja. Pulangnya Febri menyadarkan aku,
sudah memang seharusnya aku pun membiarkan si Suja pulang, pulang ke dunianya.
Dunia yang masih panjang, cemerlang, dan tak ada aku di dalamnya. Karena
dunianya bukan lagi duniaku, aku tlah meninggalkannya beberapa tahun lalu.


0 comments:
Post a Comment