09062012

Saturday, June 30, 2012

Febri harus pulang. Ya ampun, sayang banget dia gak masuk big four. Gak akan ada lagi suara khas sarat falsetto di sisa kompetisi Indonesian Idol Season 7. Dari awal aku dah merasa gak enak. Walaupun  penampilan dia malam  ini bagus banget, tapi susah untuk berada di posisi aman, persaingannya sangat ketat. Aku punya feeling dia yang bakal keluar. Pada saat Daniel akan mengumumkan siapa yang bakal pulang , aku hanya berharap feelingku salah. Dan, aku benci ternyata aku benar.
Aku suka banget penampilan Febri malam ini. Setiap kontestan menyanyikan dua lagu, Febri membawakan lagu Peterpan yang Di Balik Awan dan With or Without You nya U2. Tak perlu diragukan lagi, aku adalah Sahabat Peterpan sejati, tapi diantara dua penampilan Febri itu, aku dibuat terpukau oleh penampilan dia yang kedua. Dia menyanyikan lagu itu dengan caranya sendiri, ditambah stage act dengan gaya slow motion gitu. Unforgettable dan kena di hati. Aku agak merasa bersalah ma dia, pas lagi melongo liat dia nyanyi With or Without You, aku ngagerentes dina hate pengen liat lagi penampilan dia yang itu. Yah, pada kenyataannya, aku memang melihat dia nyanyiin lagi lagu itu di akhir acara.
Bicara soal Febri pasti bicara juga tentang someone who I know, hhe. Dari pertama liat juga, aku langsung nyadar, Febri tuh mirip si Suja. Kali. Sedikit cerita tentang si Suja, kemarin-kemarin aku merasa berat nerima sikap dia. Kayaknya dia berniat menghilang. Hatiku tak mengizinkan. Aneh. Padahal sebelumnya aku yang ingin menjauhi dia. Gara-garanya, aku kesal banget ma dia. Kami janjian, dia memintaku menunggu, tapi tak pernah datang. Dan yang parahnya, dia gak minta maaf dan bersikap kayak gak terjadi apa-apa. Untuk lima bulan selanjutnya, kami menjalani semacam Cold War, walau pada kenyataannya dia masih suka menyapa di dunia maya, tapi aku menanggapinya dengan dingin.
Kami pernah perang komen di facebook, seperti biasa dia menyapa dengan sikap tanpa dosanya, dan aku pun seperti biasa menangapinya dengan dingin. Sepertinya dia mulai merasa sikapku berubah. Terlambat memang, orang itu dah lima bulan yang lalu. Dia bertanya kenapa, lalu aku jawab kesal di buat menunggu. dia malah menuduh aku pundungan dan menyuruh aku untuk bersikap dewasa. Sesuatu banget ya, disuruh dewasa ma anak SMA. Dia kecewa karena aku gak mau maafin, padahal sungguh, dia gak pernah minta maaf sebelumnya.
Sebenarnya kalo dia langsung minta maaf dan menunjukan penyesalannya, aku juga gak akan bersikap keras, masalahnya gak kan berlarut-larut kayak gini. Tapi aku ada salutnya juga sih, dia berniat menyelesaikan masalah ini. Dia menelpon aku. Tapi pembicaraan di telepon itu malah menambah persoalan baru. Masalah kekesalan aku dianggap dah clear tapi ujung-ujungnya dia malah mengungkapkan perasaannya padaku, gak nyangka aku. Ternyata selama ini dia merasa dikasih harapan kosong, sementara aku tidak berpikir sejauh itu. Aku pikir kedekatan kami, ya tidak memerlukan sebuah status, karena memang rumit juga untuk dideskripsikan.
Dia kecewa. Aku bingung. Setelah itu sikapnya agak beda, mungkin dia sedang mencari-cari alasan untuk tidak berbicara denganku lagi. Ada perasaan tak rela, seperti yang sudah ku katakanan, sebelumnya aku lah yang tidak ingin berbicara dengan dia.
Kembali lagi ke Febri. Febri yang sudah pulang. Febri yang mirip si Suja. Pulangnya Febri menyadarkan aku, sudah memang seharusnya aku pun membiarkan si Suja pulang, pulang ke dunianya. Dunia yang masih panjang, cemerlang, dan tak ada aku di dalamnya. Karena dunianya bukan lagi duniaku, aku tlah meninggalkannya beberapa tahun lalu.



0 comments:

Post a Comment