Seperti
memang sudah menjadi suatu keniscayaan, segala sesuatu itu indah pada permulaan
dan suram pada akhirnya. Begitu pula dengan hubungan spesial kita dengan
seseorang. Tapi dalam kenyataannya, hal yang wajar ini masih sering membuat
saya merasa heran sendiri. Pada awal suatu hubungan, semua terasa manis.
Kekurangan dan kejelekan pasangan tak menjadi penghalang tumbuh suburnya rasa
cinta kita.
Bagaimana
endingnya? Berbalik 180%. Hal-hal yang dahulu dianggap sepele berubah menjadi
sesuatu yang krusial. Entahlah. Mungkin dari awal juga itu memang merupakan hal
krusial, namun tampak sepele di mata orang yang sedang kasmaran. Semuanya
berbalik. Tak ada lagi hal-hal indah. Tapi walaupun begitu, menurut saya sangat
tidak pantas kalau suramnya ending suatu hubungan di umbar di ruang publik,
dengan cara memojokkan dan menghujat seseorang yang pernah dekat dengan kita.
Saya
pun sering merasa marah, kecewa, dan sedih saat suatu hubungan tidak berjalan
sesuai yang di harapkan. Apalagi saat semuanya berakhir tanpa penjelasan. Ada
bagian dari diri saya yang ingin memaki untuk meluapkan segala perasaan. Untungnya,
saya bukanlah tipe orang yang bisa memaki secara langsung, saat bertatap muka
dengan orang yang bersangkutan, lidah saya akan menjadi kelu. Oleh karena itu,
jejaring soasial lah yang menjadi pilihan untuk menampung kegalauan.
Pernah
beberapa kali saya berniat untuk meluapkan semua rasa marah di dunia maya tapi
selalu urung saya lakukan. Saya teringat masa lalu. Teringat masa indah bersama
dia. Walaupun kenangan indah itu ingin saya buang, tapi hal itu tetap mampu
mengerem hal-hal berlebihan yang sangat ingin saya lakukan. Selain itu, saya
yakin kemarahan itu hanya sesaat. Waktu pasti menyembuhkan segala luka. Saya
tidak ingin ada penyesalan nantinya untuk hujatan dan makian yang tak mampu
saya kendalikan.
Jadi,
saya memilih untuk menelan hujatan dan makian tersebut. Habis Manis Sepah
Ditelan. Kesenangan masa lalu saya yang merasakan sendiri, pahit nya masa kini
pun biarlah saya telan sendiri. Saya mencoba menanamkan pemahaman itu dalam
hati, berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai menghujat atau menjelek-jelekan
seseorang yang dulu pernah mengisi hati saya. Meski dalam praktiknya, saya
masih suka marah-marah secara inplisit di jejaring sosial. Excelo. 23 Mei 2012 06.30PM